Bagaimana Saya Terjebak Pada Wahabism?

avatar

Sekitar tahun 2015, saya bekerja di sebuah sekolah swasta di bekasi. Saya bekerja sebagai guru. Saat itu sekolah tersebut adalah sekolah umum. Dulu sebelum menikah saya adalah penganut liberalisme yang memandang agama itu sama.

Kebetulan setelah menikah saya berkomitmen untuk menjalankan agama dengan benar. Saya mulai rajin sholat ke masjid. Dan kebetulan masjid tersebut dikuasai oleh kelompok yang cenderung kepada Wabism. Saya baru tahu ternyata di kampung itu terjadi perpecahan akibat masjid tersebut dipegang oleh kelompok yang anti bid'ah. Kelompok yang kalah mendirikan sendiri Mushola di dekat masjid tesebut.

Lambat laun saya mulai masuk. Saya mengikuti kajian dimasjid tersebut. Kemudian ditempat kerja, saya melihat youtube dan waktu itu para ustadz wahabi sangat gencar di media ini. Ustadz dan kyai NU belum masuk ke youtube. Hanya sedikit yang mengkonter paham wahabi.

Akhirnya saya menemukan situs dimana ada ratusan rekaman ceramah audio dari ustadz wahabi. Saya download dan simpan di flasdish dan saya dengarkan dirumah. Mendengar ceramah yang baru dan sangat berapi-api dengan membawakan hadis dan qur'an saya merasakan inilah ajaran Islam yang benar.

Saya mulai memanjangkan jenggot dan memotong celana. Tak terasa saya sudah tenggelam lebih dari satu tahun. Perangai saya mulai berubah. Saya lebih terlihat sholeh secara penampilan tetapi hati saya merasa paling benar dan sombong dengan orang-orang yang masih melakukan ajaran Islam yang lama.

Masalah mulai muncul di sekolah, Banyak rekan guru yang mulai risih dengan keberadaan saya yang selalu bicara agama. Semakin hari janggot semakin panjang dan hati ini semakin keras.

Puncaknya.. sekolah umum tersebut merubah diri menjadi sekolah Islam namun dengan model cenderung ke NU. Ada tiga orang ustaz yang membekingi sekolah tersebut. Satu orang lulusan dari Mesir.

Saya semakin terpepet. Gerak saya dipantau dan diawasi oleh ustaz tersebut. Kegiatan maulid saya tidak ikutin dan banyak hafalan hadis yang menurut ustaz wahabi saya lemah tidak saya ajarkan ke anak-anak.

Saya semakin rajin mendatangi kajian-kajian ustadz wahabi di hari minggu. Kebanyakan ustaz wahabi mengadakan kajian di hari minggu. Doktrin demi doktrin masuk namun seiring waktu saya mulai menemukan kejanggalan.

Keadaan disekolah semakin tidak kondusif untuk saya. Akhirnya saya keluar dari sekolah dan berwirausaha. Saya masih ikut kajian minggu ke beberapa masjid. Saya ajak anak dan Istri. Sebagian akwat mamakai cadar tetapi saya tetap melarang istri pake cadar.

Suatu hari, saya merasa bosan dengan kehidupan saya. Circle friend saya semakin sempit dan saya dapati di internet bahwa ustaz wahabi saling mencaci. Ada kelompok Albani, Saudi, dan Damaj Yaman. Tiga kelompok tersebut tidak akur. Hati mulai bertanya... inikah ajaran yang katanya paling benar? Keraguan mulai datang.

Keraguan itu semakin membesar sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk berhenti total mengikuti dan mendengarkan kajian ustadz wahabi. Saya membangun kembali kehidupan bertetangga, sholat ke masjid kalau sempat saja, dan mengikuti tahlilan, maulidan dan semua acara di masyarakat. Saya juga ikut ngumpul tetangga pada saat tahun baru.

Saya baru sadar, walaupun tetangga tidak rajin-rajin ke mesjid mereka tetap sholat di rumah. Mereka perduli dengan lingkungan. Jika ada yang sakit langsung menengok dan kehidupan saya mulai normal lagi. Saya tak lagi memakai celana ngatung dan potong janggut. Saya baru sadar bahwa paham wahabi itu berbahaya jika terus membesar.

Paham ini terkadang membawa ideologi extrim yang tak bisa diterima di masyarakat. Oleh karena itu, pengalaman saya , saya gunakan untuk membentengi dari paham wahabi yang masuk ke lingkungan saya. Sekarang ini saya beragama mengikuti ajaran guru-guru saya waktu kecil dan menjalani hidup normal tanpa harus dibatasi oleh ideologi yang kaku dan keras.



0
0
0.000
0 comments